Tampilkan postingan dengan label potonganpuisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label potonganpuisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Mei 2012

Puisi Bak Awan Hitam

Apalah puisi
perlu kubanggakan
kupunya seni
lain dari seni penyair

Puisi bak awan hitam
aku laksana bulan
tersembunyi belakang selubungnya
usah kaupanggil
awan nan hitam
bulan bersinar di angkasa

Jalaluddin Rumi
(Dikutip dari Nasr, “Rumi and The Sufi Tradition” hlm 177)

Minggu, 29 April 2012

Sajadah


Sajadah putih
Hati kumal

Sejadah kumal
Hati putih

    Putih…..
         Kumal…..
               Putih itu kumal….
                      Kumal itu pitih ….

Sejadahku kumal akan Dosa 
yang luluh bersama air mata

Bilakah hati ini putih
Bukan abu abu ataupun hitam


Wishly Hiltoni
Sakatiga,2005

Jumat, 27 April 2012

Kulit Kacang


biasa
kulihat saksama
Tak hanya dari sudut mata 
apalagi dari satu sisi

Fenomena
Kulit kacang yang tercecer 
dimana mana 
di kotak sampah 
fenomena tersudut  
menjadi warna yang brbeda 
antara plastik sampah lain

Corak yang tergaris 
dari jiwa jiwa yang tak berdenting
tak sadar, pun tergetar

mungkin lupa manisnya susu
atau sejak bayi ditetek-i tuba ibunya
atau kesintingannya baru menjadi
menyeringainya tanda tak-syukur
mungkin futur 
atau sudah kufur

Wishly Hiltoni
Sakatiga-Indralaya, 2005
http://myblogs.affiliatebot.com/bintang/723/ampas_kulit_kacangKukit Kacang

Mana Senjatamu ?

Pembual yang otoliter
Bagai badut berwajah konyol
Tapi kejam
Dalam wacana dan bualannya
Kini tlah meletus memuncak
Sejak pecah pesta demokrasi
Juga rezim reformasi

Inilah lolongan para rakyat
Pada bait-bait kata dan wacana
Yang kini tak sekedar bunyi
Tlah jadi gaung suara-suara
Menbelah dada berlapis baja
Mengubah kata menjadi senjata
Dan moral yang bisa ditukar dengan rupiah

Detik ini mereka lah lemah
Bagai monster tak bersukma
Rezim adi kuasa tumbang
Oleh menggelapnya sadar rakyat 
yang tak mampu berkompromi 
dengan kebusukan
Berlubang dada mereka
Oleh peluru kata-kata
Ber- sajak
 dan - puisi 

 disana . . .
Sesaat mereka gagap pun gugup
Tak ada benteng kata-kata
Tuk prisai pelindung aib
Selamat hancur

Tapi “tunggu dulu
Sebelum mati
Ia tinggalkan biji-biji baru
Suatu masa ia kan tunas
Hidup kembali
Bersama bualan-bualan baru   
dan episode baru...

Wishly Hiltoni
Sakatiga, 2005

Mengulur Malam

Kutulis sajak ini
pada lembaran hakikat yang tak akurat

langkah dan rajut
menghela
di sela nafas, keras
mendengus, berayun
terlepas kepenatan hati

saat mentari menatap kaki langit
kenangan melukis air mata
membiarkan waktu menjadi
membiarkanaku terpatri
melukis sejuta abstrak
pada ribuan kanfas
terurai tanda tanya
kerberai tanda kutip
di setiap kuas yang tergures

saat terpekur
saat terbujur
basahi bantal tidur
pada mimpi badai berlumpur
pada malam yang kuulur

Wishly Hiltoni
Sakatiga, 16 Mei 2007

Kamis, 26 April 2012

sepotong cerita di bus kota


Di mobil reot itu
Tanpa radio dan lagu 
yang ada nyanyian kursi 
dan pintu

  Krek, krek……
          Krek, krek….
                  Krek, krek…..
                  Nget, nget……
           Nget,nget…..
  Nget, nget…..
Suara itu iringi tarian ban di lubang aspal

Aku letih Bunda”…
Dalam tatap kosong itu
Saat letih dalam dudukku
Kuterawang kasih mereka
Di sebuah perjalanan
Titi dan tantang hidup

Bersama restu Ayah Bunda

Wishly Hiltoni
Palembang-Indralaya 2006

Kedurhakaan yang tersisih


Nak”……
Sayang”….
.
Ayo bangun”sudah siang….
Sholat subuh dulu !
Ambil cangkul sana !
Susul Ayah mu diladang…

Ah”… “Ibu”…
Aku masih ngantuk nih”..
Huh” orang lagi enakan tidur
Tidur lagi ah…..

Ehhh…
Nyam, nyam, nyam……
Zzz…zzz…zzz…

Nelayan


Mentari pagi ditelan mendung
Angin berlari menyereret sejuk
Semua tersenyum
Memaksa fajar tuk berlalu

Camar berkepak riang
Iringi Nelayan dayung perahu
tuk  pulang sekedar melepas lelah matanya
Setelah menjaring nafkah
Bersama malam dan kesunyian

Ditiap detak nafasnya
Diingatnya ILLLAHI
Di setiap dayung
Ia mengingat istri dan anaknya

Tumpuan harap dan cita
Terlukis di hati dam bayang itu
Putra yang ber bhakti
Pada ILLAHI
Pada-nya dan Pertiwi

Wishly Hiltoni
Sakatiga Sebrang, 2006

Bilakah ?


                  bajingan
            bajikan        cinta
         haru                  denki
           hura             kaya
              ^           miskin
                         hidup
                        dan
                 
                       mati

keabadian warna hidup
manusia
Bilakah….?

Wishly Hiltoni
Indralaya, 2004

Sampah



Lambung jatuh lapar
Seorang tua
Terdampar di trotoar
Pada kerumunan lalat
Di pinggir tong sampah

Tong sampah
Tempat membuang sampah
Tempat sang kuscing mengadu lapar
Tempat seorang tua mengais rizki
Surga para masyarakat sampah

Lalu “dimana mereka ?
tikus-tikus got parlement
Juga para sampah masyarakat

?...
seorang tua di sini…………


Wishly Hiltoni
2005